SATURNUS adalah planet unik dalam sistem tata surya karena Saturnus memiliki cincin. Ketika wahana tak berawak Cassini terbang melintasi Saturnus, Cassini menangkap gambar mirip cincin pada salah satu bulan yang mengorbiti Saturnus, yaitu Rhea.
Rhea adalah bulan terbesar kedua yang mengorbiti Saturnus. Sebagai satelit, Rhea diduga kuat mewarisi sifat-sifat planet induknya, yaitu Saturnus. Jika Rhea benar-benar memiliki cincin, Rhea adalah bulan pertama yang diketahui memiliki cincin.
“Hingga saat ini,kita baru mengetahui bahwa hanya planet yang memiliki cincin. Namun, kini kita menduga Rhea memiliki cincin yang mirip cincin Saturnus,” ujar ilmuwan Mullard Space Science Laboratory, University College,London,Geraint Jones. Rhea memiliki diameter sekitar 1.500 km.
Kumpulan partikel-partikel kosmis yang mengitari Rhea diperkirakan membentuk cincin yang memiliki panjang lingkar luar sekitar beberapa ribu km. Jones menegaskan, penemuan susunan partikel mirip cincin di sekitar Rhea merupakan kejutan besar. Sebab, tidak ada orang menduga bulan bisa memiliki cincin.
Dalam kelas planet, cincin kosmis diketahui mengitari Yupiter, Neptunus, Saturnus, dan Uranus. Cincin Saturnus adalah yang paling populer. Ilmuwan Solar System Research, Max Planck Institute, Norbert Krupp, menilai bahwa penemuan susunan partikel mirip cincin pada Rhea akan mengubah cara pandang manusia terhadap bulan.
“Bulan-bulan seperti Rhea kerap diabaikan karena penelitian terlalu berfokus pada planet,”tandas Krupp. Misteri Saturnus semakin banyak terungkap setelah Amerika Serikat (AS) dan Eropa bekerja sama meluncurkan wahana tak berawak Cassini- Huygens menuju Saturnus. Pada Februari,wahana tak berawak itu membantu para ilmuwan meneliti sifat bulan lain yang mengorbiti Saturnus,yaitu Titan.
Penelitian itu mengungkap, Titan ternyata memiliki sumber energi jauh lebih besar daripada seluruh kandungan minyak dan gas yang berada di Bumi.Sumber energi terbesar yang terdapat di Titan adalah hidrokarbon cair. Di samping itu,Titan juga kaya kandungan kimia organik yang lain.Titan kerap dilanda hujan metana serta etana, dan kimia-kimia tersebut berkumpul membentuk lautan dan danau.
“Titan adalah pabrik raksasa kimia-kimia organik,” tandas ilmuwan Johns Hopkins University, Ralph Lorenz. Namun, manusia penduduk bumi tidak akan mudah mengeksplorasi potensi energi Titan. Sebab,Titan berjarak sangat jauh dari bumi. Yaitu lebih dari 1,2 miliar km.
Di samping itu, suhu Titan juga sangat dingin. Sisi paling panas di Titan hanya memiliki suhu minus 179 derajat Celsius. Lorenz dan rekan-rekan berharap, penelitian terhadap pembentukan kimia karbon Titan dapat menguak rahasia pembentukan kehidupan berbasis karbon di bumi. Lorenz menambahkan, titan juga kaya molekul organik kompleks bernama tholins, yang menyusun bukit-bukit berminyak di Titan. (AP/AFP/ahmad fauzi)
Sumber : www.seputar-indonesia.com
DIarsipkan di bawah: SAINS, Tulisan Impor