SBY : Kritik itu Obat

SEMARANG - Media massa diminta tidak hanya terjebak pada persaingan bisnis. Sebaliknya, media harus mampu menyajikan berita dan informasi yang bisa dipercaya masyarakat. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas media, industri pers diminta meningkatkan kesejahteraan wartawan. Mereka adalah pahlawan di balik layar kesuksesan media.

Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Grhadika Bhakti Praja, kompleks kantor Gubernur Jateng, Sabtu (9/2).

Presiden juga menyatakan, untuk mewujudkan visi Indonesia 2030, diperlukan sikap optimistis.

”Kalau kita optimistis, Insya Allah seberat apa pun perjuangan pasti akan ada solusinya. Bila kita pesimistis, maka kita akan kalah. Dan kekalahan itu dimulai dari Semarang. Mari kita optimistis, tegar, dan percaya diri,” ungkapnya.

Hadir sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Gubernur Jateng Ali Mufiz, tokoh pers, praktisi, akademisi serta kalangan dunia usaha. Presiden mencanangkan budaya ”Gemar Membaca Koran”.

Puncak acara HPN itu menghasilkan Deklarasi Semarang yang berisi lima butir rumusan konvensi media massa se-Indonesia guna mencapai visi Indonesia 2030. Rumusan itu sebagai penyeru kepada seluruh bangsa untuk menjadikan 100 tahun Kebangkitan Nasional 2008 sebagai momentum membangkitkan seluruh potensi bangsa menuju negara yang maju, unggul, dan sejahtera.

Sebelumnya, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tarman Azzam membacakan lima butir rumusan konvensi. Pertama, Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan kemampuan bangsa beradaptasi, berpeluang menjadi negara yang maju, unggul dan sejahtera. Namun sejak reformasi 10 tahun lalu, Indonesia mengalami keterpurukan dan jauh dari cita-cita reformasi.

Kedua, Indoneisia masih menghadapi kendala di semua sektor, khususnya kapasitas SDM dan terjadinya pergeseran nilai yang mengakibatkan masyarakat kehilangan kepekaan sosial. Ketiga, untuk menjadi negara maju, Indonesia harus punya visi dan grand desain sekurang-kurangnya 25 tahun ke depan.

Keempat, pers yang memiliki peran strategis dituntut mampu memahami dan menyampaikan visi jauh ke depan, sekaligus terus mengobarkan semangat dan optimisme bangsa. Dan kelima, guna menjalankan fungsi dan perannya, pers harus memperbaiki kendala internal, terkait independensi, profesionalisme dan etika.

Dari Pers

Presiden mengungkapkan rasa optimistis harus dimulai dari pers. Ia meminta berita-berita yang disajikan mampu membangkitkan sikap percaya diri. Namun terlepas dari itu, ciri bahasa media tidak boleh lepas dari kritikan. Karena dari pengritisan media, membuat pemerintah turut berbenah untuk memperbaiki kinerja.

”Kritikan itu harus sesuai porsinya. Ibaratnya kita sakit, diberi obat untuk diminum tiga kali sehari tentu akan sembuh. Tetapi kalau diberi obat diminum 12 kali, maka akan kolaps (ambruk). Saya menganalogkan kritikan itu harus imbang,” tandasnya.

Kepala Negara menyambut baik visi Indonesia 2030 atau 2050. Karena itulah, ia mengingatkan sebagai bangsa yang terus mengembangkan diri menjadi bangsa yang demokrasi tidak sepatutnya terus-menerus mengolok-olok diri sendiri karena sesungguhnya banyak kemajuan yang dicapai bangsa ini dalam periode ini. ”Jangan berpikir kerdil. Negara-negara lain saja mengakui (kemajuan yang diraih-red) negara kita. Mengapa kita melukai diri sendiri,” ujar dia.

Rangkaian puncak HPN, PWI memberikan anugerah Lifetime Achievement Awards kepada tokoh pers yakni Jakob Oetama, DH Assegaff, Sabam Siagian, Atang Ruswita (alm), dan RH Siregar (alm) di halaman Kantor DPRD Jateng. Sekaligus pementasan wayang kulit dengan dalang Ki Enthus Susmono.

Sumber : suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan